Rabu, 15 Desember 2010

Pertemuan LFCN 15 Des 2010 YADI YASIN


CONCEPTUAL LANDSCAPE, demikian "judul" dari Om YY. Om YY mencontohkan bagaimana mengonsep suatu foto landscape, dari yang paling simple, yaitu "mengonsep ditempat (simple) " setelah melihat lokasi, atau merencanakannya dengan matang sejak sebelum berangkat ke lokasi. Untuk "konsep simple" kehandalan pengetahuan sang fotografer dan pengalamannya akan banyak berperan, sedangkan bagi seorang pemula, akan ' bingung' memilih obyek, bahkan melihat secara mata kamerapun sulit. Beliau - yang juga sharing knowledge nya dengan mengadakan "premium mentor series the art of seeing" menenrangkannya dengan sangat sistematis.
Tidak kurang dari 120 fotografer memadati ruangan di ground floor Kyoei Prince Jakarta. Sukses buat om YY, para peserta dan LF Candra Naya.

Senin, 13 Desember 2010

Katalog ISAP mendapatkan rating 5star FIAP


Katalog 1st Indonesia Salon of Art Photography (ISAP) 2010 mendapatkan Rating bintang 5 dari Federation Internationale de l'Art Photographique. Rating paling tinggi yang pernah dicapai penyelenggara salon foto di Indonesia .
Implikasi dari rating biasanya akan menambah jumlah peserta pada salon berikutnya, karena banyak peserta yang mengharapkan fotonya masuk katalog indah, atau minimal akan mendapatkan katalog yang nyaman untuk dilihat dan pantas untuk di koleksi.

Rapat Anggota LFCN 12 Desember 2010


Bertempat di Lokasi Utama PERHIMPUNAN SOSIAL CANDRA NAYA, jalan Jembatan Besi Jakarta telah dilangsungkan Rapat Anggota dengan agenda: Pertanggungjawaban Pengurus/Ketua LFCN masa bakti 2009-2010. Rapat dipimpin oleh Bp H M Moh Badroen SH didampingi oleh Sekretaris sidang Rosetini Ibrahim SH. Pertanggung jawaban dilakukan oleh Dr Edwin Djuanda sebagai ketua 2009-2010.
Dalam kurun waktu 2 tahun, LFCN telah mengadakan kegiatan yang luar biasa jumlahnya: pertemuan bulanan 18x, Lomba foto di web (terbuka untuk umum) 4x, Pemotretan Beauty in the Forest di Gunung Pancar, berikut Lombanya, Darmawisata fotografi 3 kali : Bali Capturing the hidden treasures of Bali, Ujung Genteng dan Sawarna. Puncaknya adalah 1st Indonesia Salon of Art Photography (ISAP 2010).
Prestasi yang dicapai antara lain Rekor MURI, Rating bintang 5 katalog ISAP dari FIAP.
Ketua juga mengumumkan masalah dengan GPA dan Ketua FPSI yang sekarang, ini dimaksudkan agar siapapun anggota +pengurus+ calon ketua/pengurus baru mengetahui permasalahan "ekstern" yang masih menjadi batu sandungan dunia fotografi Indonesia.
Pada kesempatan itu juga diumumkan keputusan pemberian gelar Hon.E.LFCN pada Agatha Anne Bunanta dan I Wayan Suparmin SH. sebagai anggota LFCN yang banyak berjasa bagi klub. Pertanggung jawaban di terima oleh anggota.
Kemudian dilakukan juga pemilihan Ketua untuk periode berikutya. Kembali terpilih Edwin Djuanda dengan suara aklamasi.
Konsumsi disiapkan oleh PSCN: nasi Padang yang terasa sangat nikmat, maklum sudah pada lapar, apalagi AC ruangan terlalu dingin. Kemudian di tarik 1 undian doorprize tas kamera "Tamrac" yang dimenangkan oleh Anthony Bachtiar

Rabu, 24 November 2010

JERRY AURUM FEMALOGRAPHY



Jerry Aurum pengagum wanita

Ini yang dikatakan Jerry mengenai wanita dalam bukunya
“Strange creatures, I Thought. Women were created having unlimited powers. Everything about them changes humanity. They are source of great inspirations that shape the world. Daily. Constantly. Yet they are often blamed for men’s struggles and failures, both in love and in life.”

Inilah yang menggugah Jerry untuk memotret wanita sebagai “subyek”, bukan “ obyek” , maka Jerrypun memulai proyek “wanita” nya.
Jerry selalu melihat wanita hanyalah dijadikan obyek dalam fotografi, dan semua foto hasil karya fotografer adalah sama dengan karya fotografer lainnya , maka Jerry akan melakukan sesuatu yang “berbeda” dengan fotografer lain.

Jerry selalu mendalami subyeknya, dan biasanya harus saling mengenal sebelumnya. Jerry akan menanyakan pada “calon modelnya” (tentu saja wanita), sebenarnya imajinasi apa yang dimiliki oleh sang model. “Kamu anda mau saya foto, sebenarnya anda ingin seperti apa dan sedang berbuat apa”, gitulah kira-kira. Ternyata, setiap wanita memiliki imajinasi yang berbeda, bisa saja ada yang ingin di foto dalam keadaan terbang, melayang, sensual atau horor. Disini Jerry meng kawinan antara idenya sendiri dengan karakter dan imajinasi sang model. Jerry yang lulusan cum laude Visual Communication Design senirupa ITB , langsung membuat sketsa kira-kira apa yang akan di visualisasikan dengan fotografinya.

Maka lahirlah buku Femalography yang dari halaman awal sampai akhir, selalu menampilkan foto yang sejak awal konsepnya berbeda dengan foto yang sebelumnya ia buat.
Presentasi pertama di pertemuan LFCN dimulai dengan foto “Setan merah” (dalam buku berjudul RED 2004), sang model di cat merah seluruh permukaan kulitnya, kemudian Jerry membuat bak mandi kayu, yang dilapisi terpal merah . diisi air dan model merah yang berbalut kain merah masuk ke dalam bak tersebut. Untuk mendapatkan hasil maksimal, ia mengambil angle dari atas model, yaitu membuat menara kayu setinggi 7 meter di atas sang model .
Foto lain “Spring 2006” menampilkan Dian Sastro berbaring santai di kebun ber alaskan dedaunan kering, lengkap dengan keranjang piknik, asisten menjatuhkan bunga-bunga dan Jerry menambahkan satu single flash yang berfungsi seolah matahari bersinar.
Jerry yang sangat jarang menggunakan photoshop, sering mewarnai subyeknya dengan cat., atau melukis di permukaan kulit sang model., maka tampillah “Terre in Blue 2005” , dan foto-foto lainnya.
Untuk memvisualisasikan dunia tanpa gaya tarik bumi, Jerry meminjam suatu lokasi resto-cafĂ© yang hanya diijinkan untuk digunakan selama 2 jam, asisten harus melemparkan benda benda pada saat yang bersamaan dan sang model harus dibuat se akan melayang, maka tampilah “ Zero gravity 2004”
Masih banyak yang dibahas pada malam tersebut, pada sesi Tanya jawab, ada pertanyaan antara lain, dasar referensinya Jerry apa? Ternyata Jerry menjawab bahwa yang dilakukannya adalah TIDAK melihat dulu hasil karya fotografer lain, karena bila melihat, ia akan terinspirasi dan hanya melakukan inovasi. Kalau begitu dimana sumber pencarian Jerry?
Jerry mengungkapkan inspirasi kreatif dalam dirinya berasal dari dosennya di ITB yang mengatakan bahwa :” If you want to be a good designer, learn from a good designer; but if you want to be a GREAT designer, learn from EVERYTHING”
Jerry merasa ide-ide kreatif terus menerus tampil di pikirannya, bukan hanya karena melihat sesuatu secara visual, namun ide-ide visualisasipun silih berganti muncul saat ia membaca novel misalnya. Ketika ditanya semalam saat ia presentasi, Jerry mengatakan, saat sekarang mungkin ada sekitar 450 ide kreatif yang silih berganti muncul dalam alam pikirnya .

Mengenai launching buku FEMALOGRAPHY , Jerry menjelaskan, buku sengaja di launching di Singapura untuk mencegah polemik di dalam negeri (walaupun kemudian di launching juga di TB Kinokuniya Plaza Senayan). Di Singapura, Jerry membawa bukunya ke kedutaan Indonesia Singapura untuk dibuka oleh pejabat Indonesia . Apa yang didapat? Ditolak oleh Kedutaan, dengan alasan yang tidak jelas. Jerrypun berpaling ke kementrian Kebudayaan Singapura, yang dalam waktu 2 jam, kementerian memutuskan akan men sponsori pameran selama 10 hari, bahkan di pamerkan di gedung kementerian tanpa biaya sepeserpun. Pameran Femalography Jerry Aurum di Singapurapun bergaung luas termasuk ke negara-negara lain. Jerrypun sempat ber pameran di Belanda juga mendapatkan sambutan dan diskusi dari para pecinta seni dan fotografi. Sekarang kita nantikan bersama Femalography II yang sedang disiapkan Jerry.
Lebih jauh dengan Jerry Aurum: www.jerryaurum.com

Selasa, 23 November 2010

Sejarah Salon Foto Indonesia pertama dan lahirnya FPSI


Di tahun 1973, atas prakarsa LFCN dan PAF Bandung, diadakanlah SALON FOTO INDONESIA yang pertama oleh LFCN. Pada akhir Desember 1973, diadakan pameran SFI 1973 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pada saat itu, belum ada FPSI.
Penyelenggara SFI 1973, memfasilitasi Rapat kerja guna membentuk Federasi Perkumpulan2 Senifoto Indonesia (disingkat FPSI) pada saat berbarengan setelah upacara pembukaan pameran salon foto.
Walaupun pembentukan FPSI di fasilitasi oleh LFCN, namun di tahun 1975, Ketua FPSI pertama, Prof Dr RM Soelarko menyempatkan diri menerbitkan PIAGAM PENGHARGAAN pada LEMBAGA FOTOGRAFI CANDRANAYA sebagai penyelenggara SALON FOTO INDONESIA 1973. Suatu dokumen sejarah , karena tanpa ada yang pertama, tidak ada yang kedua dan selanjutnya. Ditengah usaha-usaha sebagian pihak mengecilkan peran LFCN dalam dunia senifoto Indonesia, dokumen ini menjadi sangat penting.
Filosofi dasar pembentukan FPSI yang di prakarsai oleh PAF Bandung dan LFCN Jakarta di tahun 1973 adalah kebersamaan dalam hobi fotografi.
Sangat ironis,saat ini, hubungan antar klub di Federasi FPSI mungkin tidak akan kembali harmonis seperti dimasa-masa sebelumnya (sejak 1973), karena sudah ada permainan-permainan tidak etis dan pelanggaran AD ART organisasi. Prinsip kebersamaan dan saling menghormati sudah ditinggalkan. Surat resmi dan pendapat dari salah satu klub pendiri FPSI di abaikan, malah federasi memaksakan menerima klub calon anggota yang baru eksis beberapa bulan dengan cara nekat yaitu melanggar AD/ART organisasi. Hal ini akan merupakan catatan sejarah yang tidak akan bisa dihapuskan.
Untuk mendapatkan dokumen foto Salon Foto Indonesia pertama, silahkan buka disini disini

Kilas Balik 19 Juni 1994


Lebih dari 16 tahun yang lalu, Bapak H.Budiardjo (almarhum), mantan Menteri Penerangan era Soeharto, Ketua FPSI dan juga Ketua renovasi akbar Candi Borobudur, mengumpulkan sisa-sisa aktivis LFCN.
Pesan beliau adalah : pertahankan eksistensi LFCN, karena tanpa LFCN, tidak ada sejarah dunia (seni) fotografi Indonesia seperti saat ini.

Terlampir undangan di kertas yang sudah menguning yang masih tetap menjadi ARSIP PENTING bagi kami untuk tetap melestarikan dan memajukan kembali Klub Foto LFCN yang lahir sejak 1948.

Pertemuan pengurus LFCN dengan tim Mediasi PAF Bandung


Tanggal 21 November 2010 pagi, 3 pengurus LFCN bertemu dengan tim dari PAF Bandung, dengan tujuan memberikan alasan keberatan penolakan LFCN terhadap keanggotaan penuh GPA di FPSI.
Pertemuan berlangsung dengan santai tapi serius. Terimakasih kepada "saudara tua" PAF, yang bersama LFCN di tahun 1973 menjadi memprakarsa terbentuknya Federasi Perkumpulan Senifoto Indonesia (FPSI).
Saat ini, kemelut yang tadinya merupakan masalah intern LFCN, sudah menjalar ke tubuh FPSI . Ini disebabkan karena masing-masing pihak tidak menggunakan aturan yang sama yaitu AD dan ART FPSI.

Walaupun FPSI berbentuk federasi, semua sudah paham bahwa sekarang sudah ada klubfoto "anak emas" yang diberikan kesempatan lebih besar dan mungkin ada pula klubfoto yang "anak tiri" . Masalah kesetaraan anggota Federasi dan saling menghormati sudah jauh dari riwayat dan sejarah FPSI sebelumnya (sejak 1973).

Komitmen LFCN adalah: LFCN akan tetap memajukan dunia fotografi di Indonesia dengan dasar idealisme, bukan berdasarkan mencari popularitas atau kekuasaan.