Kamis, 08 Juli 2010

AGUS LEONARDUS:KONTROVERSI SALON FOTO


* mengapa SalonFoto yang sudah diadakan sejak lebih dari seratus tahun tetap eksis dan tidak pernah kekurangan peminat.

Walau jakarta hujan lebat dan macet, pertemuan masih dihadiri lebih dari 80 orang. Agus membawakan prsentasinya dengan riset yang mendalam, dari wikipedia +katalog salon2 di Indonesia.
Ternyata hakikat SALON adalah PAMERAN + kongkow2, tdk melulu fotografi, mulanya paling sering lukisan. Mulainya di Perancis. biasanya yang jadi HOST adalah WANITA. Maksudnya pemilik Salon2 terkenal adalah wanita. di Salon Foto, foto yang dipamerkan haruslah di kurasi, di sinilah timbul istilah foto terpilih untuk dipamerkan . Merupakan kebanggaan tersendiri bilamana foto kita terpilih untuk dipamerkan dalam suatu salon (accepted).
Bahwa akhirnya suatu SALON menjadi LOMBA, dan memberikan macam2 medali (seperti sport) ,akhirnya yang di fokuskan adalah LOMBAnya adalah bukan merupakan hakikat sebenarnya. bahkan banyak salon memberikan hadiah materi (dulu gak ada).
Singkat saja: semakin lama salon merupakan pengulangan2 ide dan konsep, sehingga membosankan untuk dilihat. Walaupun demikian, banyak juga foto salon yang sangat segar dengan ide dan konsep , al foto War and Peacenya Lano Utomo, Setan Jalanannya Setiadi Tanzil, dan foto2 karya Pedro louise Raota .
Kesalahan terbesar Agus adalah masuk klub foto salon di tahun 1978, sehingga mengurangi kreativitasnya untuk berkonsep dan berkarya. Walaupun ia memiliki banyak medali (mendapatkan 4 star FPSI, yang pertama), namun ia baru ber PAMERAN TUNGGAL, 17 tahun kemudian . Dimana ia BEBAS mengutarakan segala ide-ide liarnya.

Terimakasih kepada Agus Leonardus yang menurut saya adalah salah satu dari sedikit fotografer yang penyeni, pemikir dan filsuf dalam bidang fotografi .

Agus Leonardus adalah fotografer salon yang sangat produktif dan kreatif. Mendapatkan A.FPSI **** (berarti 120 point dalam salon foto indonesia). Sering diajak serta ber pameran SENIRUPA, karena dianggap sebagai "seniman tulen" yang kebetulan memilih media fotografi sebagai ekspresinya.

Tidak ada komentar: