Agatha A. Bunanta secara resmi menerima gelar MASTER Photographic Society of America (PSA) dari
Presiden PSA Mr John Davis Jr di Konferensi Tahunan PSA 2014 pada malam
terakhir “parade para bintang “ . Agatha merupakan Master PSA pertama dari
Indonesia . Untuk mendapatkan gelar
Master PSA, seseorang harus mendapatkan minimal 1500 acceptance dari salon
international yang diakui oleh PSA.
Selasa, 14 Oktober 2014
Di PSA Conference 2014 : David Somali Chow menerima E PSA
Selamat kpd David Somali-Chow EPSA:
Di konferensi tahunan
Photographic Society of America (PSA) yang ke 76 di Albuquerque New Mexico,
David menerima gelar EPSA dari President PSA John Davis Jr. Dua foto David juga terpilih di Pameran foto
PSA kategori Wild Life.
Peserta konferensi ada 416 , berasal dari 13 negara antara lain Australia, China , Canada, Germany, India,
Indonesia, Singapore, Inggris, Mesir , Hongkong.
Peserta dari Indonesia ada 4: Agatha Anne Bunanta, David Somali-Chow, Edwin Djuanda dan Hendro Heryanto. semua dari LFCN. Perlu diketahui bahwa keanggotaan PSA adalah bisa club maupun individual. LFCN sebagai club sudah menjadi anggota PSA sejak tahun 1976 , aktif kembali sejak 2009.
Selesai konferensi, dilanjutkan dengan festival tahunan Hot Air Balloon Albuquerque yang terkenal.
Senin, 21 Juli 2014
Peluncuran Buku MATA INDONESIA 19 Juli 2014
Bertempat di Ruang Sumba3 Hotel Borobudur Jakarta diadakan
peluncuran buku foto MATA INDONESIA karya 52 fotografer dari Candra Naya
Photographic Society. Dengan pembawa acara yang memberi suasana “segar” di
Bulan puasa yaitu Andri Thaslim dan Wiwin Yulius, acarapun bergulir dengan lancar
dipimpin oleh moderator FENDI SIREGAR. Pengulas adalah SIGIT PRAMONO HonCNPS, Bankir,
Komisaris BCA, Ketua Perbanas, mantan direktur BNI, BII yang sangat hobi
fotografi (membuat 6 buku foto); DON HASMAN Etnophotographer dan mountainerring
yang handal yang menerima Penghargaan
International 100 Famous Photographers in the world (2000) , Penghargaan Trophy
Adinegoro bidang Fotografi Jurnalistik (1997),
Penghargaan Anugerah Fotografi Indonesia (Kemenparekraf 2013) ; dan ARBAIN
RAMBEY: Fotografer senior harian Kompas. Pengasuh rublik “Klik” di Kompas
setiap hari selasa dan Kompas TV setiap sabtu.
Acara berlangsung sangat hidup, mencerahkan dan juga membuka
wawasan yang sangat luas tentang dunia fotografi Indonesia ,apalagi dihadiri
juga oleh rekan-rekan dari Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Semua pengulas melakukan tugas dengan serius.
Ringkasan dari setiap pengulas. Sigit Pramono : Harus menetapkan target
untuk buku “Mata Indonesia” berikut, karena bahan baku di Indonesia sangat
melimpah dan anggota LFCN sudah terbukti sebagai fotografer yang handal. Don
Hasman : mengatakan sampai merinding saat pertama menerima, meraba dan
membuka buku “Mata Indonesia” . Begitu banyak buku tentang Indonesia
diterbitkan oleh fotografer luar, Buku ini di garap dengan sangat serius dan
akan merupakan dokumen yang sangat berharga, bukan hanya untuk Indonesia, namun
untuk dunia.
Arbain Rambey : Buku ini menunjukan kinerja para
pemotret amatir yang sangat sering melampaui hasil para profesional (maksudnya
pewarta foto). Mata para amatir di buku ini sungguh indah . Aneka hal yang ada
di Indonesia di potret “lebih dari biasa” karena dilakukan dengan kesukaan.
Menerbitkan buku bukan suatu hal yang mudah dan memerlukan biaya tinggi.
Kesimpulan oleh moderator Fendi Siregar : semua
pengulas memberikan masukan yang sangat berharga bagi kita semua. Dengan
hadirnya para pejabat Parekraf, sudah selayaknya fotografi diperlakukan dengan
serius sebagai suatu direktorat tersendiri.
Acara dibuka oleh Ibu Watie Moerani, Direktur
Pengembangan Seni Rupa (PSR) Dirjen Ekonomi Kreatif Berbasis Seni Budaya,Kemenparekraf
Edwin Djuanda sebagai ketua LFCN menjelaskan latar
belakang buku ini adalah karena buku yang baik akan menjadi rekaman dan saksi
sejarah di jaman kita eksis dan mudah-mudahan buku “Mata Indonesia” masih akan
dicari sepuluh, duapuluh tahun yang akan datang sebagai collector’s item. Di
akhir acara resmi, Agatha Anne Bunanta sebagai editor buku “Mata
Indonesia” mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah
membantu terlaksananya buku pertama LFCN ini
juga kepada Chef Edward Betz yang menyemarakkan dengan
kreasi-kreasi “camera manianya” Agatha mengatakan bahwa both of us are crazy with ideas. Hadirin dipersilahkan berbuka puasa,
mengambil/ membeli buku dan semua sibuk saling meminta tandatangan, suatu sore hari yang akan akan lama dikenang
oleh yang hadir....
Sabtu, 12 Juli 2014
MATA INDONESIA Photography Book
info@candranaya.com
BUKU FOTO MATA INDONESIA
Hardcover 27x27 cm, 164 halaman
Berisikan 111 foto pilihan mengenai alam, manusia dan budaya
Indonesia karya 52 fotografer
Penerbit : Candra Naya Photographic Society
Editor : Agatha Anne Bunanta, HonCNPS, ARPS, MPSA, EFIAP/s,
UPI crown4
Kertas Garda Kiara 185 gms
Harga Rp.500.000,-/ eksemplar , belum termasuk ongkos kirim
Baru tersedia di www.focusnusantara.com
dan order online di info@candranaya.com
Buku ini akan merupakan buku referensi penting
mengenai Indonesia yang dilihat dari “mata” para seniman foto pada masa kini,
disusun dalam suatu alur ceritera yang memanjakan mata dan selera
contoh halaman:
Berita di harian Kompas 22 Juli 2014 halaman 36
Langganan:
Postingan (Atom)




