Senin, 25 April 2011

Gedung Candra Naya Gajah Mada 188 semarak kembali



Bertempat di Jalan Gajah Mada 188 Jakarta Barat, pada tanggal 16 dan 17 April 2011 dilangsungkan "open house" bangunan ex Perhimpunan Sosial Candra Naya yang digunakan Candra Naya sejak 1946. Bangunan arsitektur Cina ini sekarang merupakan cagar budaya pemda DKI .
Saat itu diadakan promosi apartemen Green Central dengan menampilkan kesenian budaya Tionghoa dengan "Pameran Foto" yaitu menampilkan 20 foto kegiatan Lembaga Fotografi Candra Naya dalam kurun 1956-1980.

Rabu, 23 Maret 2011

EQUIBLIRIUM BROMO



Sigit Pramono membawakan presentasi foto-foto Equilibrium Bromo di pertemuan Lembaga Fotografi Candra Naya, Kyoei Prince Jakarta pada 23 Maret 2010. Pada saat itu pula dilakukan penjualan buku-buku foto karya beliau yang ternyata cukup diminati para peserta seminar, sekalian meminta autograph dari beliau .

23 Maret 2011: SIGIT PRAMONO "Equilibrium Bromo"


Siapa tidak mengenal BROMO, yang menurut Lonely Planet adalah gunung tercantik nomor 3 di dunia (Mount Fuji adalah nomor4) . Dan menurut SIGIT PRAMONO, Bromo selalu cantik, bahkan saat terjadi erupsi sejak November 2010 sampai sekarang (Maret 2011), yang entah sampai kapan akan berakhir.
Sigit yang dikenal sebagai banker papan atas, dan sekarang menjabat Direktur Perbanas , memerlukan hobi fotografi untuk mengimbangi profesinya yang sangat memiliki tanggung jawab risiko sangat tinggi.
Sebagai fotografer otodidak yang menyukai LANDSCAPE, ia dikenal sebagai fotografer Indonesia yang paling banyak menghasilkan buku karya fotografi , sampai saat ini sudah 5 buku yang dihasilkan yaitu VIEW POINTS (2005) , BISIKAN ALAM(2006), MAJESTIC, MYSTICAL MOUNTAIN (2007), BELANGA : PARADISE IN AN EARTHEN POT (2009) dan BROMO, A PERPETUAL REMINDER (2010).
Dengan terjadinya erupsi Merapi pada tanggal 25 Oktober 2010, semua jurnalis tumplek semua ke Merapi yang bencananya banyak menimbulkan korban harta dan jiwa. Seminggu kemudian, Bromo juga erupsi, dan tidak banyak jurnalis yang berminat meliput. Lain halnya dengan Sigit Pramono yang langsung datang ke Bromo dan mengabadikan moment-moment dimana keindahan panorama Bromo, berbaur dengan gemuruh letusan , semburan awan dan hujan pasir. Bahkan hujan batu se kepalan tangan bilamana kita berada di dekat lokasi kawah. Hampir setiap weekend, beliau datang ke Bromo dan meliput sejak November 2010 sampai saat ini.
Letusan Bromo tidak mengambil korban jiwa, namun banyak menimbulkan kerugian materi. Masyarakat Tengger pun tidak ada yang geger, semua pasrah dan menganggap ini adalah siklus alam, dimana setelah letusan, akan didapatkan kesuburan. Menurut Sigit,rangkaian letusan Bromo kali ini benar-benar akan merubah “wajah panorama” Bromo, sehingga bagi fotografer yang sebelumnya sudah memiliki foto Bromo, harus menyimpannya dengan baik. Bromo will never be the same.
Yang unik, letusan demi letusan Bromo dapat dinikmati sebagai pertunjukkan, udara tetap terasa sejuk, Nampak dalam foto-foto karya beliau dimana penduduk masih menggunakan jaket dingin, dan menggunakan payung. Payung digunakan bukan untuk hujan air, namun untuk melindungi dari hujan pasir. Masker harus digunakan. Karena frekuensi letusan yang sering, Sigit dapat merekam bencana melalui jiwanya yang terbiasa merekam keindahan, maka lahirlah foto-foto erupsi Bromo yang memiliki nilai jurnalistik tinggi, namun tetap menampilkan unsur artistik.
Foto-foto “Equilibrium Bromo “ ini, sudah dipamerkan di Hotel Four Seasons Jakarta dan kemudian di Galeri Foto Jurnalistik Antara ; menurut rencana juga segera akan di pamerkan di Singapura. Foto-foto yang terjual di Pameran, hasilnya 100% disumbangkan pada masyarakat Tengger yang memerlukan bantuan. Sebelumnya, Sigit juga terlibat dalam penggalangan dana bagi masyarakat pasca letusan di Merapi.
Mengamati koleksi foto Equilibrium Bromo ini, kita bisa melihat bahwa Bromo memang tetap cantik, atau memang karena fotografernya yang artistik, bayangkan erupsi hebat di ambil saat semburat sinar matahari terbit yang ke merahan bergabung dengan warna pekatnya semburan abu, pasir dan batu. Dramatis, namun tetap indah.
Sukses bagi Bapak Sigit Pramono yang berbagi ke piawaian beliau terutama tips-tips bagi para fotografer lainnya. Presentasi di LFCN ini dihadiri lebih dari 70 fotografer dengan banyak pertanyaan dan diskusi yang hidup dan berbobot, dari menanyakan perbedaan film dengan digital, cara menyimpan file film/ digital, tips trick motret landscape, kenapa memilih kamera panoramic yang setiap roll hanya memberikan 4 bingkai, memilih kamera + peralatan minimal untuk landscape, dsb.
Terakhir , Sigit mengundang para fotografer untuk menikmati Bromo yang masih erupsi, atau ke galeri yang paling tingggi di Indonesia, yaitu di hotel Java Banana miliknya (kawasan Bromo), dan jangan lupa, sebagai penggemar music Jazz, Sigit juga mengundang pada acara JAZZ GUNUNG ketiga di Bromo pada 9 Juli 2011. Kamar hotel di Java Banana sudah penuh, namun masih banyak penginapan lain di sekitarnya.
Karya foto Sigit Pramono, bisa di akses di www.sigitpramono.com . Sedangkan buku-buku foto karya beliau bisa di nikmati dan dibeli di “Alun-alun” Grand Indonesia Shopping Mall.

Kamis, 24 Februari 2011

WORLD OF DON HASMAN



DON HASMAN di LFCN 23 Februari 2011
Tidak kurang dari 120 peminat foto , hadir dipertemuan LFCN di Wisma Kyoei Prince Jakarta pada tanggal 23 Februari 2011. Om DON membawakan presentasi dengan judul “WORLD OF DON HASMAN”.
Acara di buka oleh Ketua LFCN: Dr Edwin Djuanda, yang menjelaskan mengenai Photographic Society of America (PSA Journal) edisi Februari yang memuat 1 halaman mengenai new member gallery, berisi foto-foto karya anggota baru PSA yang 100% adalah anggota LFCN. Semua di fasilitasi oleh PSA Region Director for Indonesia : Agatha Bunanta PPSA (agathabunanta@gmail.com)
Pengantar Om Don, dilakukan oleh Bpk Kamser Lumbanradja, fotografer yang juga merangkap explorer. Kamser mengungkapkan bahwa selain menaklukan puncak-puncak gunung tertinggi di dunia (Kilimanjaro, salah satu puncak Mt Everest), Don Hasman juga menyelam ke dasar laut.
Om Don mengutarakan bahwa 2011, tepat 50tahun beliau memotret dan 40 tahun bertualang. Beberapa tahun lalu, Om Don juga pernah diundang ke “world explorer” di New York, berarti prestasinya memang diakui di tingkat dunia.
Ketika ditanya apakah masih ada mimpi petualangannya yang belum tersampaikan, Om Don, di usia 70tahun mengatakan masih ingin menjelajah “silk road” dari Xin Jiang China, ke Uzbeskistan, dsb sampai ke Iran dengan bersepeda. Dan satu lagi: dari Machupichu berjalan ke Cape Horn: ujung benua Amerika yang paling selatan.
Mengenai ethophotography yang dilakukan, beliau mengatakan yg paling menarik adalah masyarakat Baduy dalam dan Tengger, kedua suku itu adalah suku yang paling jujur yang ada di Nusantara.
Om Don yang mengatakan sudah lebih dari 500 kali datang ke suku Baduy selama 36 tahun terakhir, ternyata cukup terkecoh juga dengan arah sembahyang suku Baduy yang di rahasiakan arahnya. Demikian pula dengan kalender Baduy, yang ternyata, karena ditentukan pemuka adat dengan mengamati gejala alam, setiap bulan ada yang 28 hari, ada yang sampai 60 hari. Benar-benar “ semau gue” . Om Don sedang membuat buku hasil penelitiannya mengenai suku Baduy dalam yang diharapkan akan selesai dalam 1 tahun ini ; mungkin tidak akan banyak disertai foto, karena ada larangan memotret di sana.
Om Don juga masuk dalam Tim SAR, anggota kehormatan Mapala UI, juga diundang mengikuti Camel Trophy, dsb.
Mengikuti dunia Don Hasman, benar-benar masuk ke arena petualangan yang menuntut stamina tinggi dan pengetahuan yang cermat ; karena tanpa pengetahuan yang cukup; pendaki gunungpun banyak yang tewas karena ketidak tahuan.
Om Don juga menunjukan foto-foto perjalanannya yang artistk, selain trampil bertualang, Om Don juga seorang fotografer handal .
Terimakasih pada Bpk Don Hasman, sang petualang sejati yang malam itu memberikan banyak inspirasi dan semangat pada generasi lebih muda.

Jumat, 04 Februari 2011

Pengurus LFCN Masa bakti 2011 -2012


Pada tangal 29 Januari 2011 dilakukan rapat penyusunan pengurus LFCN, periode masa bakti 2011-2012 dipimpin oleh Ketua terpilih Edwin Djuanda.
Susunan Pengurus adalah:
Pengurus LFCN:
Penasehat Soebagio Wahjudi, Hon E.LFCN; Johnson Hon FRPS, Hon E LFCN
Ketua Umum Edwin Djuanda, Dr , ARPS, A.FPSI*, Hon ELFCN
Ketua I Tjen Wie Hauw ,E.FPSI,A FPSI*
Sekretaris : Rosetini Ibrahim S.H.

BendaharaI: Agatha Anne Bunanta, MBA, ARPS, PPSA, EFIAP, FPSI **, Hon ELFCN
Bandahara II: I Gede Lila Kantiana
Seksi-seksi:
Pertemuan Yoseph Dwi Laksmono ; Widiyanto Saleh
Hunting Tri Endro Budiarto S.H. ; Joelianto
Pendidikan Antoni Bachtiar S.H.; Wilya Elawitachja Drg, Hon ELFCN
Web/ Lomba Andri Thaslim ; Widiyanto Saleh
Publikasi Fachri Je

-----
susunan masih akan dikembangkan sesuai kebutuhan. Juga rekan-rekan ex Pengurus dan aktivis lainnya,akan kami minta bantuannya dalam bentuk ke panitian- ke panitiaan dalam program-program LFCN yang akan bertambah semarak dan berbobot.

Senin, 24 Januari 2011

WILDLIFE PHOTOGRAPHY SECRETS :Riza Marlon



Pertemuan LFCN di Kyoei Prince pada Senin 24 Januari 2011 menampilkan fotografer RIZA MARLON.
Beliau adalah biologis yang ambisinya mendokumentasikan seluruh spesies satwa yang ada di Indonesia sejak tahun 1990. Idealismenya tergugah karena melihat tidak ada upaya pelestarian sungguh-sungguh dari yang berwenang untuk melindungi spesies endemis Indonesia.

Walaupun menggunakan peralatan yang relatif sederhana, kemampuannya menghasilkan foto-foto yang luar biasa.

Karyanya tertuang dalam buku foto yang baru diterbitkan “ Living Treasure of Indonesia” setebal 216 halaman; satu-satunya buku foto “wild-life” karya anak bangsa.

Caca-demikian biasa ia dipanggil membagikan pengalaman dan rahasianya untuk dapat memotret wild-life sekitar kita dengan mudah dan hasil yang luar biasa.
Beberapa peserta diskusi banyak menanyakan hal-hal praktis , yaitu kesulitan yang mereka hadapi saat memotret satwa liar di lapangan, misalnya gerombolan kuda liar yang buyar setelah terkena lampu kilat,dsb. Caca menerangkan segala sesuatunya cukup lengkap mulai dari survei lokasi, sangat perlunya "local guide" yang paham lokasi dan kebiasaan satwa yang dicari. Juga teknik kamuflase yang efektif, misalnya membuat persembunyian dari dedaunan di daerah sekitar, atau menggunakan kamuflase portable. Ternyata satwa akan kembali ke tempat dia berada, karena, kita yang harus sabar menunggu, berhari-hari, bahkan bisa berminggu-minggu. Jadi memotret satwa liar tidaklah bisa berkeliaran dengan membawa kamera+lensa panjang. Melainkan memilih spot, sembunyi dan menunggu dan menunggu...
Malam itu, tidak kurang dari 15 bukunya terjual dan diberikan tandatangan oleh penulis/ fotografernya langsung. Malam itu masih ada yang belum kebagian bukunya, tetapi masih dapat memesan langsung ke Kang Caca rmarlon2001@yahoo.com

Sabtu, 22 Januari 2011

Kursus Fotografi LFCN- INTI


Setelah beberapa kali menjajaki kemungkinan kerjasama dalam pendidikan fotografi, akhirnya tanggal 22 Januari 2011 dimulailah kursus fotografi Lembaga Fotografi Candra Naya - INTI (Perhimpunan Indonesia Tionghoa), ber tempat di Office Tower B MKG, lantai 10, Bandar Kemayoran, Jakarta Pusat.
Pengajar utama yaitu Bp Antoni Bachtiar (LFCN no.1694)yang akan di lengkapi oleh para senior LFCN lainnya. Kursus ini diharapkan dapat memenuhi hasrat para peminat hobi foto yang semakin banyak dan juga mencetak fotografer baru yang paham akan teori dan praktik dari dasar-dasar fotografi secara benar. Beberapa peserta bahkan sudah lama memotret atau ikut kursus di tempat lain, tetapi merasakan perlu mandalami kursus yg diselenggarakan oleh LFCN ini.

Perhimpunan Indonesia Tionghoa atau disingkat Perhimpunan INTI merupakan organisasi sosial kemasyarakatan bersifat kebangsaan, bebas, mandiri, nirlaba, dan non-partisan. Tujuan didirikannya Perhimpunan INTI ialah untuk menyelesaikan "Masalah Tionghoa di Indonesia", sebagai warisan sejarah masa lalu.

Didirikan pada tanggal 5 Februari 1999 di Jakarta, INTI berkeyakinan bahwa pengikutsertaan seluruh WNI Keturunan Tionghoa secara menyeluruh, bulat, dan utuh adalah syarat mutlak penyelesaian Masalah Tionghoa di Indonesia.

Perhimpunan INTI bukan merupakan organisasi ekslusif, namun terbuka untuk semua Warga Negara Republik Indonesia yang setuju kepada Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, serta Tujuan Perhimpunan INTI.