Selasa, 22 Desember 2009

28 Mei 2009 : EdwinDjuanda & John Teffon


Kamis 28 Mei 2009
Pertemuan LF CandraNaya di
***

Acara:
1.Topik: KOMPOSISI oleh Edwin Djuanda ARPS, A FPSI*, Hon E LFCN

2.Pengumuman dan pemberian hadiah LOMBA FOTO SATWA 2009, para finalis harap hadir / wakilnya.
3. JOHN TEFFON bicara mengenai kemudahan dalam photoshop

AGUS LEONARDUS: LFCN 23 April 2009


AGUS S LEONARDUS photografer pertama yg memperoleh gelar A.FPSI**** ( 4 star) pertama di Indonesia

Fotografer AGUS S LEONARDUS adalah seorang seniman yang menggunakan fotografi sebagai media ungkapannya. Di kenal sebagai kreator dan inovator, beliau juga yang pertama membuat buku album foto YOGYAKARTA dengan menggunakan kamera handphone Nokia. Masih banyak terobosan terobosan beliau dalam bidang seni maupun fotografi. Juga beliau sudah puluhan tahun menjadi dosen Fotografi di Yogyakarta. Beliau juga salah seorang pengajar NIKON school of Fotografi Indonesia. Dan jangan lupa, beliau selalu mengungkapkan presentasinya dalam suasana segar penuh canda, namun berbobot dan penuh pelajaran berharga
.

Cuplikan presentasinya:

PENGHARGAAN FOTO SEBAGAI KARYASENI

Di belahan bumi lain, fotografer sudah dianggap sejajar dengan seniman senirupa lainnya. Tengok Wang Qing Song, yang fotonya bernilai lebih dari 1 M, Maggie Taylor yang hasil karyanya selalu diminati para kolektor, dsb . Di Indonesia, karya fotografer Indonesia ada yang ikut lelang Christie di Singapura: karya Indra Leonardi laku seharga 90 juta rupiah. Menurut Agus, seyogyanya para fotografer Indonesia “menghargai” dulu karya mereka sebagai karya seni, baru publik akan memberikan apresiasi yang lebih baik. Juga para fotografer harus lepas dari kungkungan formal seperti salon sehingga dapat lebih melampiaskan ide sebebas-bebasnya. Sudah lama banyak pelukis yang menyajikan lukisannya secara “ fotografis”, malah banyak yang menggunakan FOTO (dulu dengan slides) dan kemudian di proyeksikan ke kanvas, di gabungkan dengan foto2 lainnya, jadilah lukisan yang “fotografis” seperti karya Dede Erie Supria, dll. Hebatnya lagi karya lukisan yang “ berdasarkan foto” jauh lebih tinggi dari karya foto yang di print. Apa yang dilakukan Dede puluhan tahun lalu, yaitu bermula dengan ide, mencari visualisasi dengan kamera dan menggabungkan beberapa foto dalam 1 kanvas, sekarang menjadi sangat mudah bagi seorang fotografer yang merangkap FOTOSHOPPER.

******

BERMULA DENGAN IDE: " SUKROSONO TAKUT BEHA"



100Tahun lahirnya Afandi diperingati dengan pameran senirupa dari para seniman terpilih. Hanya beberapa fotografer yang terpilih untuk turut serta dalam pameran akbar tersebut, Agus adalah salah satunya. Kali ini panitia memberikan tema yang jelas: sisi manusia dari pelukis terkenal tersebut. Seorang pelukis mengutarakannya dengan foto seorang pria jantan, buka dada, dengan celana dalam “hings?” putih dengan 2 batang tonjolan di dalamnya, diberi judul untuk M dan R (Initial kedua isteri Afandi; Maryati dan Rukmini).



Aguspun mendalami otobiografi sang maestro pelukis dan mendapatkan suatu hal yang sangat menarik, yaitu Afandi paling takut dan jijik pada Beha wanita. Bermula dari sinilah, Agus memutuskan untuk menggunakan “beha” dalam karyanya. Di dalam otobiografi, Afandi juga sering menyamakan dirinya sebagai tokoh Sukrosono dalam pewayangan. Aguspun mendapatkan konsep yang gemilang; wayang Sukrosono di abadikan sedang “ketakutan” pada beha gede yang “kap”nya juga gede, padahal sang beha cuma tergantung di jemuran, jadilah foto : “SUKROSONO BRA PHOBIA”, yang dibuat repetisi 5 kali dengan 5 warna beha yang bebeda, ditanya mengapa 5 kali? Agus menjawab bahwa tiba-tiba teringat dengan lagu anak-anak “balonku ada lima, rupa-rupa warnanya”. Ditanya kesulitan saat menciptakan foto tersebut, Agus mengatakan kesulitannya adalah saat “membeli” beha big-size karena sampai sekarang ia masih membujang.

(sumber: ceramah artis foto Agus Leonardus di LFCN, beliau adalah Pengajar Akademi Disain Visi Yogya jurusan fotografi (sejak 1996); pengajar Institut Seni Indonesia Yogya ,juga mengajar di Nikon School Jakarta , yang segera membuka cabang di Yogya, Surabaya dan Bandung.

Foto Dan tulisan lebih lengkap:

http://www.candranaya.com/forum.php?c=topic&op=index&cid=6&tid=416

Senin, 21 Desember 2009

LFCN HUNTING ke BALI 6-9 maret 2009




Liputan hunting LFCN Capturing the Hidden Treasures of Bali 6 sd 9 Maret 2009.

Photo hunting yang telah diadakan oleh pengurus baru LFCN akhirnya terlaksana juga. Hari pertama sudah melakukan hunting di Tukad Unda, Sedangkan hari kedua memotret desa adat di Tenganan ,puri Kehen dan mampir di desa adat Penglipuran. Hunting yang disiapkan dengan matang ini berjalan dengan cukup baik dan cermat berkat susunan dan perencanaan yang detail dan rapi dari Agatha. Pak Bede juga membantu memberikan saran. Pak Widiatmika dari Bali membantu koordinasi di lapangan sedangkan pelaksanaan selama tour dilakukan oleh pak Bram . Johnson Hon dari HK , banyak memberikan saran selama hunting dan mempresentasikan foto-foto bangau karyanya yang mengundang decak kagum. Sayang rekan Agatha dan Bede tidak dapat bergabung di saat-saat terakhir.

dr Henry:
wah .. ternyata foto di bukit ada behind the scene-nya .. menarik sekali .. thanks oom Wid!!

tur ini adalah tur terbaik yang saya pernah ikutin selama ini (ya .. memang harus diakui selama hidup saya baru ikut tur 3x, ini yang ke-empat) .. peserta-nya enak-enak, ramah, easy going. makanannya juga enak-enak .. thanks untuk oom Edwin & tante Rose yang mengenalkan Bali Nikmat yang memang nikmatttt tenan! terus hotel yang diinapin juga okeh .. walaupun hotel yang pertama membuat alergi saya flare :-( penataan waktunya pas banget .. bisa dikatakan setiap lokasi didatangi tepat waktu [gimana gak tepat, lha tiap harinya tidur 4 jam selama 4 hari berturut-turut] .. hanya sayang saja terkadang cuaca yang tidak mendukung ..

kalau ada istilah two thumbs up, untuk acara ini saya beri eight thumbs up ... saya pinjam jempol yang lain biar bisa jadi 8 :-p

saran, acara seperti ini harusnya dilakukan anually, biar membedakan LFCN dengan grup fotografi lainnya

ARBAIN RAMBEY: LFCN 19 Maret 2009


Redaktur foto Kompas, Arbain Rambey memberikan presentasi tentang pengalamannya selama lebih dari 20 tahun di dunia fotografi jurnalistik . Lulusan Fakultas Teknik Sipil ITB ini, banyak sekali membawakan sukaduka yang dialami, dibawakan dengan tegas, langsung dan diselingi humor segar. Dengan topik “Stategi pemotretan dalam fotografi jurnalistik”, lebih dari 50 hadirin seakan tidak beranjak, sejak jam 1945 sampai lebih dari 2 jam kemudian. Semua bahasan di ilustrasikan dengan foto-foto menarik. Arbain juga sebagai pengasuh rubrik Klinik Foto Kompas (KFK) yang tampil di harian Kompas setiap hari Selasa. Arbain mengemukakan beberapa kiat dalam foto jurnalistik , misalnya hadir sebelum acara mulai dan pulang setelah acara bubar dibuktikan dengan foto-foto jurnalistik yang sesuai. Juga teknik manipulasi photoshop apa yang dibolehkan dalam foto jurnalistik, menurut Arb (Arbain) yang boleh adalah teknik “kamar gelap konvensional” seperti cropping, burning and dodging. Arb yang sudah menggemari menyimpan dan mengurusi foto keluarga sejak kecil, sudah mengenal kamar gelap sejak belum memegang kamera. Tidak heran setelah berkesempatan memiliki kamera pertama Ricoh , ia sudah langsung paham akan fungsi pencahayaan, over/under, fungsi diafragma, dsb Kemampuannya akan teknik fotografi sangat menunjang profesinya. Ini berbeda nyata dengan kemampuan para reporter foto masa kini yang “lahir” dengan kamera digital. Pada waktu konser Beyonce . Wartawan diberikan lokasi yang paling jelek, dan ternyata, ada 300an wartawan foto. Melihat situasi yang tidak memungkinkan, Arb memutuskan untuk membeli karcis seharga jutaan dari kursi penonton, disini ia memainkan “kelebihannya” dibandingkan dengan kameraman lain. Dengan 1d dan lensa 300mm f/2.8. Ia dengan sengaja membuat exposure minus 2 stop (!) , tetapi menggunakan format RAW. Kondisi pencahayaan yang minim di kiatkan dengan menunggu sampai lampu panggung menyala paling terang. RAW memungkinkannya untuk mengoreksi exposure yang minus. Alhasil , karena menggunakan ISO yang rendah, dengan kropingpun hasil foto masih nampak sempurna. Akhirnya bukan hanya Kompas yang memuat hasil karyanya, 4 media ternama lainpun menggunakan foto hasil karyanya. Untuk memotret kiatnya yang paling penting adalah memilih MOMENT dan KOMPOSISI , selebihnya bisa diserahkan pada kamera masa kini termasuk fokusing dan pencahayaan. Arb selalu menggunakan pencahayaan otomatis aperture priority. Hal inipun menjadi cemoohan fotografer lain yang merasa lebih mantap dengan Manual. Arb mengatakan buat apa pakai kamera canggih kalau tidak dimanfaatkan.
More..... www.candranaya. com > Forum > seputar LFCN > Liputan 19 Maret
__._,_.___

RIKIN JUNAEDI: LFCN 26 Februari 2009

PERTEMUAN LFCN 26 Februari 2009

"TROPICAL ARCHITECTURAL & INTERIOR PHOTOGRAPHY" by RIKIN JUNAEDI.

Melihat foto kebun, rumah, dan interior yang indah, selalu memberikan rasa damai dan keindahan. Fotografer kawakan Rikin, akan memberikan tips & trick sehingga setelah menghadiri presentasi ini, kita akan dapat memotret bangunan, kebun, interior dan bahkan tempat tinggal kita sendiri dengan lebih baik lagi.





Rikin Junaedi is a professional photographer living in Jakarta. He specialized in architecture and interior photography. Graduated from Trisakti's University of Landscape Architecture, formerly worked in magazine for at least 10 years. He became a professional photographer in 1987.

He worked with clients such as advertising agencies, ceramics, design houses, shopping malls, real estates and sanitary products. He likes bright and full-color photography with great concepts and ideas. He is currently involved in computer/digital imaging.

DIBYO GAHARI: LFCN 29 Januari 2009



Pertemuan LFCN semalam berlangsung sangat marak, tidak seperti biasanya, 1 jam sebelum acara sudah banyak yang datang. padahal hari itu adalah kamis-bukan jumat.
Pertemuan diawali pembukaan oleh Ketua baru, yang menjelaskan secara singkat langkah-langkah kilat yang diambil oleh pengurus untuk membangkitkan kembali LFCN. Tentu saja langkah ini perlu di sosialisasikan supaya tidak timbul salah pengertian terutama di kalangan anggota lama.
Pak Dibyo Gahari, yang khusus datang dari bandung menerangkan selukbeluk tentang fotografi IR , dari pakai filter sampai ke teknik OPREK: yaitu melepas hotmirror dan memasang "cutt-off filter" Dari panjang nanometer filter yang dipasang inilah akan tersaring panjang gelombang cahaya yang akan masuk ke kamera dan direkam oleh CMOS atau CCD kamera.
Untuk memilih type IR yang mana, bergantung pada foto dan photoshoppernya. maksudnya untuk yang sudah panadi photoshop bisa menggunakan filetr yang paling umum yaitu 720 nm, disini pengolahan penting dan bisa mendapatkan pelbagai warna, bahkan dengan masking akan didapatkan pula skintone yang lumayan.
Untuk prewed, IR digunakan yang tidka mempengaruhi skin tone, tetapi dedaunan akan terekam menjdi lebih muda (umumnya dibuat menjadi Yellow, dari asalnya yang cyan)
Ada pula IR pekat yaitusekitar 800nm yang akan mendapatkan "pure BW" - cocok nih buat penggemar BW.
Tidak terasa diskusi dan presentasi memakan waktu lebih dari 2 jam. Itupun tidak ada peserta yang komplain walaupun banyak yang tidak kebagian kursi.

Terimakasih kepada pak Dibyo yang mau sharing dan juga para peserta , mudah2an pertemuan awal tahun ini membuka lembaran baru bagi LFCN.
Banyak juga anggota lama/senior yang semalam ikut menyaksikan kembali moment2 awal kebangkitan klub kita tercinta, mudah2an Tuhan memberkati dan memberikan jalan kearah itu.

Reportase lebih lengkap akan dimuat di www.candranaya. com
terimakasih.

LFCN 28 desember 2008


Pertemuan LFCN semalam mungkin terbilang unik, dia adakan di akhir tahun, di hari yang besoknya hari libur, dimana kebanyakan fotografer juga liburan ke luar kota.
Topik yang diangkat juga unik : LIVING WITH KOMODO.
Edwin http://edwindjuanda.multiply.com menunjukkan video 5 menit tentang bagaimana mencapai Komodo secara"tourist" lengkap dengan cabin kapal ber AC, yang ternyata sangat mudah dicapai: Dari Dps- LabuanBajo tiket pesawat pp adalahsekitar 1,5 juta. Ditambah kapal ke pulau Rinca + Komodo (perkapal antara 350ribu sd 1 juta perhari).Bisa juga ikut paket berikut makan (www.florestrails.com)
STEVANUS RONI dan Harum menunjukkan foto2 mereka berkeliling FLORES termasuk komodo selama 17 hari, foto2 bagus ! http://manfrotto.multiply.com
BISMO dari PT Putrinagakomodo yang sebenarnya bukan fotografer serius, bertugas di Loh Buaya (Pulau Rinca) 6 bulan , ditemani kamera pocket IXUS berhasil mengabaikan foto dan video yang unik: komodo brantem dan juga (pertama kali bisa direkam): komodo memburu rusa yang masuk ke dalam basecamp : rusanya langsung habis dalam 1/2 jam !
Terakhir EBIE , http://ebbie.multiply.com menunjukkan foto-fotonya keliling 33 provinsi Indonesia 2005-2008 termasuk ke komodo. Kerja keras Ebie termasuk sangat mengagumkan ,kita di bawa bukan saja ke tempat2 yang kita sudah kenal, namun banyak pula tempat2 yang belum pernah kita kenal atau kita dengar,dan semua ternyata ada diIndonesia ! Tujuannya adalah membuat buku about Indonesia, made by Indonesian.

Thanks a lot for all presenter!! malam yang tidak terlupakan. Mendekati jam 23 baru bubar
sumber www.candranaya.com